![]() Suasana aksi damai mahasiswa dan masyarakat Kukar di kantor PT PLN Tenggarong tadi siang Photo: Agri | |||||||
Ketua PMII Kukar, Junaidi, dalam orasinya menyesalkan kinerja pelayanan PLN yang belakangan ini kerap melakukan pemadaman aliran listrik. "Banyak kerugian yang telah ditimbulkan, mulai dari kerusakan peralatan listrik rumah tangga hingga terjadinya kebakaran selama pemadaman listrik," ujarnya. Senada dengan Junaidi, salah seorang mahasiswa STT Tenggarong bernama Markus mengaku bahwa pemadaman listrik telah mengakibatkan proses belajar-mengajar di kampusnya menjadi terhambat. "Karena kuliah sering dilakukan pada malam hari, sehingga kami sangat tergantung terhadap listrik PLN," keluhnya. Lain lagi pendapat salah seorang warga Tenggarong yang bernama Ishak. "Orang bilang Kukar kaya. Tapi apa nyatanya, listrik mati siang malam. Masyarakat sudah bosan dengan ini, jangan buat masyarakat marah. Tolong ini menjadi perhatian PLN," kata warga Jalan Gunung Belah ini.
Kepada pengunjukrasa, pimpinan PT PLN Ranting Tenggarong menjelaskan bahwa terjadinya pemadaman listrik secara bergiliran terpaksa dilakukan karena terbatasnya kemampuan produksi listrik PLN di PLTGU Tanjung Batu yaitu hanya sebesar 165 Mega Watt (MW). "Sedangkan pemakaian listrik oleh pelanggan pada beban puncak mencapai 195 MW. Mau tidak mau harus dilakukan pemadaman listrik bergiliran," ujarnya. Menurut Budiyana, PLN terus berupaya memperbaiki pelayanan kepada masyarakat dengan membangun beberapa pembangkit listrik baru di wilayah Mahakam untuk menjawab kebutuhan listrik yang terus meningkat saat ini. Namun pengunjukrasa menilai jawaban tersebut sudah terlalu sering mereka dengar dari pejabat PLN. "Jika PLN benar-benar ingin memperbaiki pelayanannya, kami minta PLN mau menandatangani kontrak dengan masyarakat Kukar," ujar Koordinator Aksi, Wahyudi.
Baik Natan maupun Budiyana tidak bersedia menandatangani pernyataan tersebut. Menurut Natan, mereka bukanlah pejabat yang berwenang untuk mengambil keputusan. Namun Natan berjanji akan meneruskan aspirasi pengunjukrasa kepada manajemen tingkat atas. Menanggapi hal itu, Ketua PMII Kukar Junaidi meminta agar PLN benar-benar menepati janjinya untuk menyampaikan pernyataan tersebut kepada pimpinan PLN. "Kami beri deadline selama 1 minggu sudah ada kejelasan dari PLN," ujarnya. Pertemuan kedua belah pihak diakhiri dengan penyerahan naskah pernyataan secara simbolis dari Koordinator Aksi, Wahyudi, kepada Natan yang bertindak mewakili manajemen PT PLN Cabang Samarinda. Aksi damai ini berjalan dengan tertib hingga para pengunjukrasa membubarkan diri. (win) | |||||||
![]() Sambil duduk-duduk lesehan, pengunjukrasa dan manajemen PT PLN Cabang Samarinda melakukan dialog |
Minggu, Desember 30, 2007
Mahasiswa dan Warga Kembali Demo PLN
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar