Minggu, Juli 20, 2008

"NASIONALISME SEBATAS BENDERA"

Oleh: Wahyudi*

Disela-sela acara pelatihan yang dilaksanakan oleh salah satu organisasi kepemudaan di Kutai
Kartanegara, muncul perbincangan hangat mengenai nasionalisme Indonesia. Perbincangan ini diawali dari satu pertanyaan yang muncul dari gurauan peserta pelatihan, masihkah nasionalisme tertanam di hati rakyat Indonesia, khususnya Kutai Kartanegara? Sontak pertanyaan ini membuat riuh suasana pelatihan tersebut.

Nasionalisme memang sangat menarik untuk diperbincangkan hari ini, mengingat sampai detik ini masih banyak yang ragu, apakah kita selaku putra putri bangsa, masih memiliki rasa nasionalisme terhadap republik ini. Hal ini muncul ketika Indonesia, sudah beberapa kali selalu diobok-obok kedaulatannya oleh negara lain, tetapi apa yang dilakukan oleh anak bangsa? Jawabnya, hanya diam seolah tidak terjadi apa-apa dengan bangsa ini. Seolah-olah republik ini bukan milik kita. Dari hal tersebut menunjukkan bahwa kadar nilai nasionalisme kita masih dipertanyakan.

Rendahnya rasa nasionalisme kita juga bisa dilihat hari ini, bahwa masyarakat kita, terutama para kaum muda, ternyata banyak yang sudah lupa lagu kebangsaan kita sendiri, yaitu Indonesia Raya, serta yang lebih dikhawatirkan selanjutnya ialah, jangan-jangan ada yang sudah lupa dengan warna bendera kita sendiri katanya Bung Iwan Fals.

Semakin meluasnya gerakan separatisme atau apapun bentuknya, yang terjadi dibeberapa daerah, adalah salah satu bukti nyata, bahwa jiwa nasionalisme kita telah berubah menjadi jiwa etnosentris. Dimana ini adalah usaha untuk mencoba memecah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Subyektifitas saya mengatakan, bahwa, hari ini yang terjadi di Indonesia, nasionalisme yang melekat dalam jiwa kaum muda kita, hanyalah “nasionalisme sebatas bendera”. Bukan jiwa nasionalisme seperti yang tertanam pada para orang tua kita terdahulu.

Nasionalisme sebatas bendera yang saya maksud ialah, nasionalisme kita hari ini bagaikan sebuah bendera yang hanya digunakan pada moment tertentu, semisal menjelang dan pada saat hari kemerdekaan dibulan agustus. dimana orang rame-rame memasang bendera seolah mereka orang yang paling nasionalis. Sedangkan bendera tersebut pada waktu lain hanya dijadikan sebagai pajangan atau souvenir belaka. Maka dari itu saya berani mengatakan, ternyata kita keliru memaknai nasionalisme itu sendiri, sehingga sangat rasional ketika saya mengatakan nasioanlisme sebatas bendera.

Memang terkadang kita sendiri mengaku memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi terhadap bangsa ini, tapi realitas yang terjadi, memperlihatkan masih sangat jauh apabila dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan, yang rela mati demi membela kedaulatan bangsa, sementara apa yang kita lakukan untuk negara kita dan masyarakat..? dimana kita yang katanya nasionalis saat rakyat dicekik oleh kenaikan harga BBM. Dimana mereka yang teriak lantang tentang Nasionalisme, disaat masyarakat kita hidup miskin di bumi yang kaya..? Kita hanya disibukkan dengan konflik-konflik antar kita sendiri. Mari, mulai sekarang, kita maknai nasionalisme itu dengan makna sejatinya atau paling tidak kita paham dan mau berbuat karena sentuhan jiwa nasionalisme itu sendiri.

* Penulis adalah Ketua Umum PC. PMII Kutai Kartanegara

Tidak ada komentar: